Kamis, 21 September 2017

Penulis : Anggakim



SAHABAT? SEORANG TEMAN YANG MENYEDIHKAN

“Ran, apa yang sudah lo lakuin? Dia bisa mati,” Dimas yang melihat Randy dengan tangan penuh darah di depan orang yang sedang sekarat. “Bukan, bukan gue Dim” ujar Randy yang terus menggelengkan kepala “Lo sahabat gue, lo percaya kan gue nggak mungkin ngelakuin itu!” tutur Randy.

Dimas yang sebenarnya mengetahui apa yang telah terjadi terus memojokkan Randy, tiba tiba polisi datang “Ran lari!” ujar Dimas, Randy yang sangat ketakutan melarikan diri.

Dimas tersenyum kecil melihat itu, karena ia tahu bahwa polisi akan mengejarnya. “Apa yang telah terjadi?” Tanya seorang polisi kepada Dimas.
“Saya tidak tahu, saat saya kemari orang itu lari begitu saja.” ujar Dimas yang seolah olah tidak mengenal Randy. Mereka membawa mayat itu, karena darah terus mengalir dari tubuh korban, Polisi mengizinkan Dimas untuk pulang kerumahnya ia hanya diberikan surat untuk menjadi saksi pada kasus pembunuhan ini.

Sementara itu Randy yang terkepung oleh anggota kepolisian hanya bisa pasrah, dalam hatinya berkata mungkin ia akan benar benar dihukum karena kesalahan orang lain.

Hasil otopsi menemukan sidik jari Randy, dan Randy dinyatakan tersangka pada kasus ini karena korban telah meninggal dunia akibat 3 bacokan di kepala, sayangnya benda tajam itu tidak berhasil di temukan di tkp, polisi sampai sekarang masih melakukan penyelidikan.

“Bukan, bukan saya!” kata kata yang terus dia lontarkan saat di bawa ke kantor polisi. “Saya hanya melihatnya dan berusaha menolongnya, kenapa jadi saya yang di salahkan.”ujarnya.

Tangannya yang diborgol mulai melemas, mulutnya yang dari tadi tidak berhenti berbicara sekarang  mulai membisu, keringat yang berubah menjadi dingin mengiringi perjalanannya.

Orang tua Randy yang tidak menyangka dengan kejadian itu sempat shock saat menerima panggilan dari kantor polisi. Mereka berduapun segera menuju ke sana. 
Karena jarak yang lumayan jauh mereka mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, tanpa memikirkan apa akan terjadi di perjalanan. Mereka terus memikirkan Randy, rasa takut sekaligus mengerikan dengan apa yang telah di lakukan oleh anak satu satunya itu. 

Detik detik lampu merah terasa sangat lama sekali bagi mereka berdua, mereka berpikir mungkin Randy sangat ketakutan sekarang, tiba tiba “ted… ted…. Brukrk” terlihat truk besar menabrak mobil orang tua Randy dari belakang dengan kecepatan tinggi sehingga mobil itu meledak seketika.

Bunyi serena Ambulance terdengar amat mengerikan saat itu, orang orang hanya berdiri tegap menyaksikan dengan jelas kejadian itu tidak berani untuk mendekat, orang tua Randy tidak bisa di selamatkan dalam peristiwa mengerikan tersebut.

Mereka yang sudah tidak bernyawa di larikan kerumah sakit, sementara supir truk di larikan kerumah sakit.

 Setelah sampai Randy masuk ruang interogasi, dia mendapatkan beberapa pertanyaan. “Kenapa kamu membunuh orang itu?” pertanyaan pertama dengan nada tinggi langsung to the point, Randy hanya menggelengkan kepalanya bertanda dia menyangkal adanya tuduhan itu, lalu ia menjelaskan dengan penuh percaya diri karena dia tahu bahwa dia tidak bersalah.

“Saat saya melihatnya, korban sudah seperti itu. bahkan saya hendak menolongnya, saya berusaha membantu orang itu untuk bangun tetapi saat saya membantunya darah terus keluar dari kepala korban, saya takut melihatnya dan tanpa sengaja saya melepaskan korban.” jawabnya pelan.

“Saat di TKP kami menemukan saksi mata bahwa kamu telah membunuh korban?” tanyanya lagi kali ini dengan nada pelan, “Dimas? dia teman saya, dia bisa jadi bukti bahwa saya tidak bersalah!” Randy yang sedikit lega, “Tapi saksi itu mengatakan bahwa ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa anda telah membunuhnya.” ujar polisi itu.
Mendengar perkataan itu keluar dari mulut polisi Randy yang tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan sahabatnya sendiri, membuat rasa percaya dirinya yang tinggi menjadi rapuh. “Apa ? tidak, tidak mungkin.” ujarnya yang mulai melemas dan terus menggelengkan kepala.

“Sepertinya dia memang tidak bersalah, terlihat dari mimik wajahnya saat dia menjelaskan dan mendengar bahwa ada saksi mata di TKP ia menyatakan dengan penuh percaya diri lalu melemas seketika saat mendengar bahwa saksi itu melihat kejadiannya langsung di TKP, kemungkinan besar saksi berbohong pada kasus ini, luka yang terdapat di tubuh korban adalah pukulan di kepala dengan menggunakan benda tajam, tetapi alat itu tidak ditemukan di TKP sedangkan saksi dia tidak menyatakan bahwa dia melihat pelaku memukul sang korban, dia hanya mengatakan bahwa saat dia melihat pelaku, dia lari begitu saja tanpa melihat adanya benda tersebut, jadi ada kemungkinan bahwa anak ini tidak melakukannya, seperti yang dia katakan sebelumnya bahwa ia hanya berniat membantu korban makanya sidik jarinya di temukan pada korban saat diotopsi.” Ujar Psikolog yang melihat langsung interogasi itu.

Setelah mendengar pernyataan yang di berikan oleh psikolog bahwa kemungkinan besar Randy tidak melakukan itu dan berbohongnya sang saksi, polisi mulai melanjutkan penyelidikan, karena usia Randy masih 15 tahun ia tidak akan di penjara, mungkin dia hanya akan di berikan peringatan jika ia benar benar bersalah.

Sementara itu ketika Randy selesai melakukan interogasi dia mendapatkan kabar bahwa orang tuanya kecelakaan saat menuju ke kantor polisi, saat mendengar itu kedua lututnya rapuh tak mampu menahannya untuk berdiri, air mata mengalir dengan sendirinya tak berhenti menetes saat mendengar orang tuanya meninggal saat kejadian tersebut.
 Polisipun mengizikan Randy untuk datang menemui keluarganya di rumah sakit.

“Ayah, bangun yah. Ibu, ibu, jangan tinggalin Randy!” kata kata yang keluar dari mulutnya dengan air mata yang tak hentinya menangis.

Saat pemakaman terlihat hanya ada beberapa orang, mungkin orang orang takut karena anaknya adalah seorang pembunuh. Karena peristiwa itu semua orang menjauhi Randy, dari teman sekolahnya, tetangganya bahkan sahabat sahabatnya, Hanya neneknya yang percaya kepada Randy bahwa iya tidak pernah melakukan itu.

“Sabar ya nak, ayah dan ibumu pasti tenang di sana!” ujar nenek melihat Randy yang terus menangis di pemakaman. “Mari nak kita pulang, biarkan orang tua kamu istirahat tenang di sana.” Randy yang terus menundukan kelapanya menuruti perkataan neneknya.

Setelah sampai di rumah terlihat ada 2 orang polisi yang sedang menunggu mereka.
“Permisi bu!” ujar seorang polisi itu. “Iya pak, ada apa ya?” ujar nenek dengan pelan, “Kami dari kepolisian memberikan kabar baik untuk Randy, dalam kasus ini dia dinyatakan tidak bersalah kami mohon maaf sebelumnya.” ujar polisi itu.

Tiba tiba Randy mendorong polisi itu hingga terjatuh “Kalian telah membunuh orang tua saya, pergi kalian!” Teriaknya dengan derai air mata yang mengalir "Sudah nak, ini bukan salah mereka, ini adalah takdir dari tuhan.” ujar nenek menenangkan, nenekpun memeluk Randy dan polisipun meminta maaf kembali dengan penuh menyesal.

*

Sejak kejadian tersebut Randy diasingkan oleh teman temannya walaupun dia dinyatakan tidak bersalah tetapi mereka beranggapan bahwa Randy lah pembunuhnya.

Randy adalah anak yang berprestasi, mempunyai wajah tampan dan aktip di segala bidang terutama ekstrakulikuler tetapi dalam sekejap dia berubah total.

Dia sadar akan hal itu, dia mungkin ingin menyembunyikan identitas aslinya kepada orang orang. Mendengar Dimas pindah dari sekolah karena peristiwa itu. Membuat Randy menutup diri kepada orang orang, karena dia tidak lagi percaya dengan yang namanya persahabatan.

Pada suatu hari, sekolah Randy kedatangan satu murid baru, perempuan yang berasal dari jepang itu bernama Yui Okazaki dia terlihat sangat cantik sehingga menjadi sumber perhatian di sekolah. Walaupun hari ini adalah hari pertamanya di Indonesia, dia sudah pandai berbahasa Indonesia, dia sendiri mengatakan bahwa dia sangat menyukai Bahasa Indonesia.

“Selamat pagi anak anak, Hari ini kita mempunyai siswi baru, dia berasal dari jepang walaupun hari ini hari pertamanya di Indonesia tetapi dia sudah pandai berbahasa Indonesia dan semoga kalian bisa membantunya untuk menyesuaikan di sekolah kita, silahkan perkenalkan diri kamu.” ujar Bu Syifa

“Hallo, selamat pagi. Nama saya Yui Okazaki, kalian bisa panggil saya Yui terimakasih.” ujar Yui dengan nada lembut.

Tiba tiba terdengar “Konnichiwa!” teriak dari salah satu anak cowok. “Itu selamat siang Bego.” balasan dari anak lain. “Sudah sudah, Yui sekarang kamu duduk di sebelah Randy!” Ujar Bu guru melihat Randy yang duduk sendirian.

Yui pun pergi ke arah Randy, dengan wajah yang terus tersenyum ia menatap Randy, tetapi Randy hanya terdiam dengan menundukan kepalanya. “Halo, saya Yui,” Ujarnya sambil menyodorkan tangan. Randy menganggukan kepalanya dan menjabat tangan Yui  “Randy.” tanpa tersenyum ia menoleh ke arahnya.

Bunyi bell terdengar pertanda jam istirahat, Terlihat semua orang pergi ke kantin kecuali Randy.
Tiba tiba ada beberapa anak cowok masuk kedalam kelas melihat Randy yang duduk sendirian dia melemparkan susu kotak ke arah Randy, Hampir saja susu kotak itu mengenai dirinya “Sial gak kena, Siapa yang bisa kenai si pembunuh itu saya kasih 50 Rb!” Ujar Ramon dengan membeberkan uang.
Anak anakpun mulai melempar susu kotaknya ke arah Randy, Randy hanya menundukan kepalanya karena jika dia melawan suasana akan semakin rumit dan mungkin dia bisa dikeluarkan.

Tiba tiba Yui datang dan lari menghampiri Randy sehingga susu kotak itu tidak mengenai Randy melainkan membasahi seluruh tubuh Yui, melihat itu Randy kaget melihat kearah Yui yang melindunginya. “Kamu gila ya?”ujar Randy yang berdiri dan mencoba melindungi Yui dari susu kotak itu.

Anak anak yang terus melempari mereka dengan susu kotak mulai heran kenapa Yui melindungi si pembunuh itu. “Hei, anak baru, ngapain? Oh, mau jadi pahlawan?” teriak Ramon sambil melemparkan susu yang berusaha mengenai Yui.

Randy memeluk Yui dan berusaha melindunginya, terlihat Yui yang memejamkan mata karena ketakutan.

Tiba tiba guru datang, “Hei apa apaan ini?” ujar guru tersebut, gerombolan siswa itupun bubar “Ramon ikut keruangan saya. dan Randy, Yui bersihkan seragam kalian” Ujar Guru itu.
“Sial” ujar Ramon.

Randypun menarik tangan Yui “Kamu gak papa?” ujar Randy, dia hanya menggelengkan kepalanya, “Kenapa, Kenapa kamu lakuin itu? saya sudah biasa di perlakukan seperti ini,” tutur Randy, “Kenapa mereka jahat sama kamu? Kamu teman saya, jadi saya ingin melindungi kamu.” ujarnya yang menatap kearah Randy.

“Apa? Teman.” ujar Randy lalu diapun pergi meninggalkan Yui. “Randy, kenapa? Apa kamu tidak mau berteman dengan saya? Saya ingin menjadi temanmu.” teriak Yui yang melihat Randy pergi.




Senin, 18 September 2017



Persepsiku tentang ODOP (One Day One Post)
Sejak pertama kali melihat postingan tentang ODOP dari FB Bang Syaiha saya sangat antusias dan ingin sekali mendapatkan kesempatan untuk bergabung dalam program One Day One Post ini. Karena saya ingin menantang diri saya sendiri supaya bisa lebih giat dalam menulis. Saya sangat senang sekali menulis, tetapi kadang saya sering sekali malas untuk melanjutkan cerita yang telah saya buat. Maka dari itu jika saya bisa mengikuti program ODOP ini saya akan bersungguh sungguh dan menjalankan misi misi dengan senang hati. Karena ODOP ini adalah komunitas yang keren dan banyak sekali penulis yang sudah berpengalaman di dalamnya.

Harapanku untuk ODOP
Semoga dengan adanya komunitas seperti ini kita sebagai penulis pemula lebih semangat untuk membuat cerita yang lebih kreatif dan menjadi wadah bagi para penulis untuk belajar bersama. Selalu menebarkan virus virus kebaikan melalui tulisan dan menjadi komunitas terbaik di indonesia.

Sabtu, 19 Maret 2016




LOVE PHOBIA

Chapter 7
Penulis : Angga Setiawan
Daratan pantai mulai tak terlihat, memandang kemanapun yang terlihat hanya laut yang luas. Kabut kabut mulai menutupi penglihatanku, sebenarnya aku tidak yakin bisa kembali. Entah kenapa mataku terasa sangat berat dan perlahan kupejamkan mataku.

*

Kepalaku sangat pusing, aku sedikit kesulitan untuk bernafas saatku membukakan mata. “Rifa, kamu sudah sadar? Ini ibu nak” ujar perempuan yang tidak terlalu tua itu. “Ibu? Kepalaku sangat pusing, aku berada dimana” ujarku yang mencoba berbicara. “Sebentar ibu panggilkan dokter dulu” ujarnya.
\
Syukurlah dia sudah sadar dan kondisinya sudah cukup membaik” ujar dokter. Aku yang masih sangat lemas, melihat ibu yang terus menggenggam tanganku. Setelah dokter meninggalkan kami aku bertanya kepada ibu.
Bu sebenarnya apa yang telah terjadi padaku?” tanyaku. “Kamu telah melewati koma selama tiga hari, setelah insiden itu. Maafin ibu ya semua ini adalah salah ibu” jawabnya. “Insiden seperti apa? aku sedikit tak mengingatnya” tanyaku kembali sedikit bingung. “sudah jangan terlalu di pikirkan, yang penting kamu harus pulih dulu nanti ibu akan jelaskan semuanya” jawabnya lagi kali ini sedikit menenangkan.
 
Aku sama sekali tidak mengingat apapun, tapi aku senang saat ini Ibu berada di sampingku entah kenapa aku sangat merindukannya.
*
Malam telah berlalu, cahaya mentari masuk dari jendela hingga menyilaukan mataku. Aku terbangun kali ini tubuhku terasa sangat fit, akupun mencoba untuk duduk terlihat ibu yang sedang tidur di kursi nampak terusik. “Rifa, Kamu sudah bangun?” tanya ibu melihatku terduduk. “Bu ayo kita pulang, aku udah gak betah disini, aku rindu kamarku” jawabku.

Ibupun memenuhi permintaanku, hari ini aku pulang dengan kursi roda. Ibu mendorongku sambil menceritakan insiden 4 hari yang lalu.

Pada saat hari kelulusanmu maaf ibu tidak bisa hadir” ujarnya yang mencoba membuka percakapan. “Tidak apa apa aku sudah melupakannya” jawabku jujur. “Saat ibu sampai di sumatera, ibu mendapat telpon dari pihak Villa di pangadaran bahwa kamu mengalami kecelakaan di pantai, mereka menemukan kamu dengan seorang perempuan pingsan hingga koma seperti ini, lalu ibu langsung meninggalkan pekerjaan ibu dan segera kemari” ujar ibu. Aku sedikit mengingatnya, apakah perempuan yang waktu itu hendak ku selamatkan. “Sama perempuan bu? Lalu apa dia juga selamat?” tanyaku heran. “Ibu kemarin mendapatkan info bahwa dia telah meninggal dunia tepat disaat kamu tersadar dari koma” jawabnya lagi. “Benarkah? Apakah aku boleh melihatnya?” tanyaku kaget sekaligus memohon. “Mari kita kesana, kebetulan keluarganya masih berada di rumah sakit ini” ujar ibu.

Aku dan Ibu menemui keluarganya, aku sungguh penasaran seperti apa wajahnya. Saat kami masuk keruangan itu terlihat foto yang begitu besar, ibu bilang bahwa perempuan di foto itu adalah orangnya.

Aku kaget dan nampak mengenalinya

 “NEMO"

  TAMAT.






LOVE PHOBIA
Chapter 6
Penulis : Angga Setiawan

Aku memeluknya dengan erat, “Baik, maafkan aku karena tidak bisa mengontrol perasaanku” ujarku yang tanpa sadar juga menangis. Nemo nampak lemas di pelukanku, hujanpun mereda aku mencoba membawanya kembali ke tempat itu namun dia menolak dan berhenti melangkah.

Rifa, kamu harus pergi sekarang” ujar Nemo pelan. “ayo kita pergi bersama”ujarku. Kami berjalan mendekati perahu itu. Tiba tiba Nemo berhenti dan menatapku, Nemo menciumku dengan penuh perasaan, aku kaget dengan itu. “Maafkan aku, sepertinya aku ketahuan telah berbohong” ujarnya pelan yang terlihat semakin melemas. “Apa maksudmu?” tanyaku heran. Nemo seperti tidak kuat menopang kedua kakinya, dia terjatuh. Aku mencoba membantunya untuk berdiri, namun dia menolak untuk berdiri. “Maafkan aku, karena juga tak bisa mengontrol perasaan ini” ujarnya pelan. “Nemo, sebenarnya ada apa ini? Apa kamu sakit?” tanyaku heran melihat Nemo yang makin melemas. “Rifa, maafkan aku karena telah jatuh hati padamu” ujar Nemo yang menghiraukan pertanyaanku dan terus meminta maaf. “Kamu kenapa Nemo, tolong beritahu aku yang sebenarnya” tanyaku kembali yang semakin penasaran, tanpa sadar air mata sudah membasahi pipiku. “Ini semua karena aku telah mencintaimu, seharusnya aku tidak boleh melakukannya” ujar Nemo yang mulai menutup mata. “Nemo, apa salahnya jika kau mencintaiku?” ujarku, isak tangispun kurasakan. Tiba tiba Nemo menghilang dari pangkuanku, aku sangat kaget dengan hal itu. Aku lari kesana kemari dan terus meneriaki namanya, ini sungguh tidak adil bagiku namun sekarang aku mulai mengerti, tapi kenapa? Kenapa hal ini terjadi padaku, aku tak henti mencarinya hinggaku aku merasa putus asa.

Nemo, kau dimana? Tolong jangan pergi dengan cara seperti ini” ujarku yang terus menangis. “Kenapa kau membuatku jatuh cinta, kalau pada akhirnya kau akan pergi, tolong jangan pergi aku mohon” teriakku.

Seperti ada yang memelukku dari belakang, “Aku disini, memangnya kemana aku akan pergi,  aku akan tetap disampingmu, karena aku sangat mencintaimu” ujarnya sambil menangis. “Nemo..” ujarku membalikan badan kepadanya lalu memeluknya. “Aku juga sangat mencintaimu, tolong.. tolong tetaplah bersamaku” ujarku mengeratkan pelukan.
 
Aku masih merasakan pelukan Nemo, tapi entah kenapa Nemo tidak terlihat oleh mataku. Aku masih bisa mendengar suaranya namun Nemo hilang dari pandanganku, aku hanya bisa berpura pura tidak merasakan hal aneh dan terus berbicara dengannya.

Lalu apa yang harus aku lakukan, jikalau aku tau akan seperti ini aku tidak akan pernah menjatuhkan perasaanku, aku menyesal karena telah jatuh cinta padamu dan membuatmu merasakan hal yang sama, tolong jangan seperti ini, ini sangat tidak adil bagiku” ujarku.
Rifa, kau harus pergi sekarang, benar kau harus melakukannya, maafkan aku karena terus membohongimu” ujarnya pelan. Nemo menciumku namun aku tidak bisa melihatnya, sungguh ini sangat menyiksaku. Tak lama kemudian aku tak merasakan apapun, “Nemo... Nemo.. kau dimana? Tolong jangan seperti ini kembalilah” teriakku.

Nemo menyadari bahwa Rifa sudah tak bisa melihatnya, padahal dia masih tetap di sampingnya. Melihat Rifa yang terus menangis dan terus memanggil namanya Nemopun lari keperahu itu, disana dia berteriak “Rifaa aku disini, ayok cari aku” teriaknya. 

Aku mendengar suara itu, aku lari dan naik keatas perahu itu. “Nemo, Nemo.. kau dimana, ayolah jangan seperti ini, aku mohon” ujarku yang sudah tak bisa membendung air mata. Tiba tiba nampak seperti ada yang medorong perahu ketengah, aku menyadari bahwa Nemo lah yang melakukannya. Mungkin inilah yang terbaik buat kami berdua, aku tidak menghentikan perlakuannya itu. Aku terduduk dengan memeluk erat lututku.

Rifaa... kau harus kembali, ibumu sangat mengkwatirkamu tolong jangan lupakan aku” teriak Nemo dari tepi pantai. Aku mendengarnya lalu berdiri “Nemoo.....! terimakasih atas semuannya, aku akan mengingatmu....




LOVE PHOBIA
Chapter 5
Penulis Angga Setiawan

Rifa, ayok bangun sudah pagi” Ujar Nemo membangunkan. Aku yang masih terlelap mencoba bangun “Hei, ayok cepat aku sudah siapkan sarapan pagi untuk mu” ujarnya lagi sambil menarik tanganku. “Benarkah?” jawabku heran, sarapan seperti apa yang dia buat. “Ha aha ha, ternyata buah, aku kira apa” jawabku sambil tertawa. “Oke semangat, ayok kita selesaikan perahu itu” ujarku lagi bersemangat.

Suasana pagi ini sangat sejuk, hari ini adalah hari ketiga aku berada di pulau asing, Aku sungguh merindukan suasana yang biasanya kulakukan. Aku sangat optimis bisa pulang dengan perahu yang ku buat bersama Nemo, aku akan mengajaknya untuk tinggal bersamaku dan ibu pasti tidak akan keberatan.

Aku dan Nemo mulai melanjutkan pekerjaan kami, Nemo sangat antusias kali ini dan aku tidak bisa menahannya untuk duduk saja dia memang keras kepala namun entah kenapa aku menyukainya.
 Seharian penuh kulewati, sedikit demi sedikit kumpulan kayu ini terbentuk menjadi sebuah perahu, aku dan Nemo sangat senang karena telah menyelesaikannya, aku percaya perahu ini bisa membawa kami keluar dari pulau ini, aku terus memperhatikan Nemo sepertinya aku benar benar menyukainya.
Nemo menoleh kearahku dengan tersenyum lalu dia mendekatkan kepalanya ketelinga ku “Kerja yang bagus Rifa” bisiknya. Hatiku berdebar begitu kencang hingga aku tidak bisa mengontrolnya, entah setan dari mana tiba tiba aku memeluknya. Nemo terdiam atas perlakuanku itu, aku yakin dia pasti mendengar detak jantungku yang sangat kencang. Aku melepas pelukan itu “Maaf” ujarku yang merasa malu. Nemo tetap terdiam dengan menundukan kepala.

Aku menarik tangannya “Ayok kita cari makanan” ujarku mengalihkan suasana diapun mengikutiku. Aku berencana akan memanjat pohon kelapa mengambil beberapa buahnya untuk menikmati airnya mungkin Nemo akan senang dengan ini. “lihat disana! Aku akan mengambilnya untukmu” ujarku sambil menunjuk buah kelapa yang lumayan tinggi. “lebih baik tidak usah, itu tinggi dan terlalu bahaya” ujar Nemo memerintahku untuk tidak melakukannya.”tidak apa apa, aku akan mengambilkanya untukmu” ujarku sedikit ngeyel. Nemo menatap keatas, belum sempat aku memanjat tiba tiba 2 buah kelapa jatuh dihadapan kami. “wow! Bagaimana bisa?” tanyaku heran. “aku juga tidak tahu, mungkin karena angin lautnya yang sangat kencang, ayok kita nikmati buah itu”ujarnya lalu mengambil 2 buah kelapa itu.

Aku sedikit penasaran, buah kelapa muda tidak akan jatuh hanya karena angin, apa mungkin?.. Ah itu tidak mungkin. “Segarnya” ujar Nemo setelah meminum air kelapa itu, “Enak kan? Sudah aku bilang ini pasti enak sekali  ujarku menghabiskan air itu.

Awan cerah berubah seketika menjadi mendung, titik titik air dari langit mulai berjatuhan aku dan Nemo berteduh di dalam Gubuk. Nemo nampak kedinginan aku membiarkan dia menyandar di pundakku. “Nemo, ayok kita pergi besok” ujarku. Nemo menaikan kepalanya lalu menatapku “Kamu yakin?”tanyanya. jarak wajah kami sangatlah dekat tanpa sadar  kupejamkan mataku dan bibirku mendekat kewajahnya, Nemo terdiam saatku mencium bibirnya. Kulihat matanya terbuka lebar mungkin karena dia kaget dengan apa yang aku lakukan, tiba tiba dia mendorongku dan lari keluar.
Hujan masih sangat lebat dia lari meninggalkanku, akupun berusaha mengejarnya “Nemo! tunggu, maafkan aku” ujarku meraih tangannya dari belakang “Aku benar benar telah mencintaimu” tiba tiba kata itu muncul dari mulutku. Nemo membalikan badan dan menatapku “Tidak, aku tidak bisa. Aku tidak bisa mencintaimu” jawabnya sambil meneteskan air mata “Tapi kenapa? Kamu harus menjelaskannya padaku” ujarku meminta, namun dia tak menjawab dan terus menundukan kepala.
Maafkan aku, aku juga sangat mencintaimu tapi aku tidak boleh mencintai manusia, aku harus mengubur perasaan ini” batin Nemo.

Total Tayangan Halaman

Blogroll

Back to Top

Popular Posts